ByRadio Rodja | Selasa, 12 Juli 2022 pukul 10:09 am. Terakhir diperbaharui: Selasa, 19 Juli 2022 pukul 4:49 pm. Tautan: Khutbah Idul Adha: Hikmah Disyariatkannya Kurban disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. yang disiarkan dari Halaman Parkir Masjid Muadz Bin Jabal, Kavling Bulog Bojongkulur Ahad, 10 Dzulhijjah
KHUTBAHJUM'AT (28) Kisah Sahabat dan Seekor Onta dalam Hijrah Rasulullah Bagi kaum muslim Hijrah Rasulullah saw adalah momentum terpenting yang sarat akan makna dan penuh dengan hikmah.Hijrahnya Rasulullah saw sering dijadikan titik balik ataupun titik mula semangat perubahan menuju yang lebih baik. Apalagi jika peringatan Hijrah
JUM'AT SINGKAT PADAT PENUH HIKMAH || TOPIK : DIALOG MALAIKAT IZROIL ||#khutbahjumat #harijumat #s
KhutbahJum'at: Sebelum Ramadhan Pergi - Hari ini adalah jum'at terakhir di bulan Ramadhan 1434 H. Tinggal beberapa hari lagi Ramadhan akan pergi meninggalkan kita. Karenanya, Khutbah Jum'at edisi 05 Ramadhan 1434 H yang bertepatan dengan 04 Juli 2014 ini, Bersama Dakwah memilih tema "Sebelum Ramadhan Pergi". *** KHUTBAH PERTAMA
Naskahkhutbah Jumat kali ini mengajak kepada khalayak untuk mengisi hari Asyura dengan dengan anjuran-anjuran Nabi Muhammad saw. Khutbah Jumat: Hikmah Manasik Haji. Khutbah; Khutbah Jumat: Berkahi Rezeki dengan Berbagi Generasi Muda dan Perubahan Zaman. 6. Khutbah Jumat: Kisah Ismail dan Larangan Menumpahkan Darah Manusia. 7. Khutbah
HikmahPuasa Ramadhan - Khutbah Jumat (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.) Kisah-Kisah Penuh Hikmah. Kisah-Kisah Penuh Hikmah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur'an. Pembahasan ini disampaikan
PWq7H. Materi khutbah Jumat ini menimba pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim yang ditegur Allah lantaran sempat memberi syarat masuk Islam ketika beliau dimintai makanan oleh seorang Majusi. Hal ini menunjukkan betapa luasnya kasih sayang Islam, baik pada orang mukmin maupun tidak, baik pada mereka yang taat maupun yang tidak. Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul "Khutbah Jumat Belajar dari Kisah Nabi Ibrahim dan Seorang Majusi". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini pada tampilan desktop. Semoga bermanfaat! Redaksi اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أمَّا بَعْدُ، فَيَاعِبَادَ الله أُوْصِيْكُم وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ Jamaah shalat Jumat hafidhkumullah, Pada siang yang penuh berkah ini khatib mengingatkan diri sendiri dan mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah kapan pun dan di mana pun berada. Yakni, dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Anjuran takwa selalu diulang-ulang dari mimbar ke mimbar karena memang penting. Namun, jangan sampai pengulang-ulangan tersebut menjadikannya semakin samar nilai pentingnya, dan anjuran takwa sebatas rutinitas dan formalitas belaka. Hadirin, Manusia adalah makhluk pembelajar. Nalarnya didesain untuk bisa menyerap pelajaran apa saja dari berbagai peristiwa, pengalaman hidup, dan sejarah. Sebagaimana dari kisah Nabi Ibrahim alaihissalam yang akan disampaikan dalam khutbah kali ini. Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah, Suatu ketika seorang Majusi penyembah api meminta jamuan makanan kepada Nabi Ibrahim sang khalilullah, kekasih Allah. Nabi Ibrahim lalu mengajukan syarat kepada sang Majusi bahwa ia harus memeluk agama Islam. Orang Majusi itu pun lantas pergi meninggalkan Nabi Ibrahim dengan tangan hampa. Allah pun menurunkan wahyu kepada Nabi Ibrahim “Selama 50 tahun Aku Allah memberinya makan dalam kondisi tetap dalam kekafirannya. Tidak sudikah kau memberinya sesuap makanan saja tanpa menuntutnya berpindah agama?” Nabi Ibrahim lalu pergi mengejar si Majusi. Ia ikuti jejaknya hingga saat ketemu Nabi Ibrahim tanpa rasa sungkan meminta maaf kepadanya. Orang Majusi itu pun heran, apa gerangan yang membuat Nabi Ibrahim berubah pikiran, bahkan rela meminta maaf. Sang khalilullah menceritakan kejadian tadi kepadanya, yang akhirnya justru membuat si Majusi terkesima dan masuk Islam secara sukarela. Cerita ini bisa kita jumpai dalam salah satu kitab induk tasawuf, ar-Risalah al-Qusyairiyah karya Imam Abul Qasim al-Qusyairi an-Naisaburi. Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah, Kisah Nabi Ibrahim ini memiliki keterkaitan substansi dengan hadits yang diriwayatkan al-Hakim at-Tirmidzi dalam Nawadir al-Ushul وَقَالَ صلى الله عليه وسلم أوْحَى اللهُ إلى إِبراهيمَ يَا إبْرَاهِيْمُ، حَسِّن خُلُقَكَ وَلَوْ مَعَ الكُفَّارِ، تَدخلْ مَداخِلَ الأَبْرارِ، فإنَّ كَلِمَتِيْ سَبَقَتْ لِمَن حَسُنَ خُلُقَهُ أنْ أُظِلَّهُ في عَرْشِي ، وَأنْ أُسْكِنَهُ فِيْ حَظِيرةِ قُدْسِي، وَأنْ أُدْنِيَه مِنْ جِوارِي Rasulullah saw bersabda Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim, “Wahai Ibrahim, baguskanlan akhlakmu walaupun terhadap kaum kafir, niscaya engkau akan masuk ke tempat orang-orang yang berbuat baik. Sebab ketetapan-Ku telah mendahului bagi orang yang bagus akhlaknya, yaitu Aku akan menaunginya di bawah Arsy-Ku, Aku menempatkannya dari di dalam surga-Ku dan Aku akan mendekatkannya dengan rahmat-Ku” HR at-Tirmidzi dalam kitab Nawadir-nya. Dalam hadits tersebut sangat jelas bahwa Allah menghendaki Nabi Ibrahim berbuat baik kepada siapa pun tanpa pandang bulu, termasuk kepada orang yang masih durhaka kepada Allah. Allah juga menjanjikan perlindungan dan rahmat atau kasih sayang bagi orang yang sanggup melaksanakannya. Perintah ini tentu bukan hanya untuk Nabi Ibrahim semata, melainkan untuk kisah semua, umat manusia. Hadirin rahimakumullah, Perbedaan adalah sunnatullah. Kiranya mustahil kita dapati dunia ini berada dalam satu warna kulit, satu etnis, satu agama, satu bahasa, satu budaya, dan seterusnya. Sekarang maupun yang akan datang. Sebab, Allah sendiri yang berfirman وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ Artinya, “Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan” QS al-Maidah 48. Keniscayaan akan keragaman ini harus menjadi asas bagi setiap tindakan yang berhubungan dengan manusia lainnya. Memaksakan kehendak, berarti melanggar ketentuan ini. Jikapun kita ingin berdakwah atau beramar ma’ruf nahi munkar maka itu seyogianya sebatas melaksanakan perintah Allah. Bukan penentu perubahan pada sasaran dakwah kita. Kita hanya diperintah untuk mengajak kepada kebaikan, bukan menjamin datangnya hidayah. Kita tidak punya kemampuan membolak-balik kondisi hati orang, termasuk kondisi hati kita sendiri. Jamaah shalat Jumat hafidhkumullah, I’tibar lain yang bisa kita serap dari kisah Nabi Ibrahim dan seorang Majusi tadi adalah bahwa kita didorong untuk melaksanakan tauhid secara sejati. Berbuat baik kepada siapa saja merupakan ekspresi dari keyakinan bahwa semua adalah makhluk Allah yang mesti dicintai, bagaimanapun keadaannya. Diskriminatif terhadap manusia lain hanya lantaran perbedaan keyakinan atau agama menggambarkan bahwa kita lebih mengunggulkan ego kelompok daripada Allah. Sebab, Allah sendiri yang Rahman dan Rahim tidak pernah membeda-bedakan mereka dalam hal karunia. Semua memperoleh limpahan rezeki. Islam memang mengajarkan umatnya untuk membenci kekufuran, tetapi bukan berarti membenci orang kafir; membenci kemaksiatan, tetapi bukan berarti membenci orang maksiat. Hal ini yang sering disalahpahami sehingga saat bergaul dengan para pendosa maka seolah akhlak yang baik tidak berlaku bagi mereka. Andai Rasulullah dulu mempraktikkan perilaku semacam ini kepada masyarakat jahiliyah, mungkin kita tak akan menjumpai keagungan Islam seperti sekarang ini. Sebagaimana dikutip Abdurrauf al-Munawi dalam Faidhul Qadir, Al-Arif billah Syekh Ibnu Arabi pernah mengatakan يَنْبَغِي لِطَالِبِ مَقَامِ الخُلَّةِ أَنْ يُحَسِّنَ خُلُقَهُ لِجَمِيْع الخَلْقِ مؤْمِنِهِمْ وَكَافِرِهِمْطَائِعِهِمْ وَعَاصِيْهِمْ Artinya, “Orang yang mencari derajat sebagai kekasih Allah hendaknya berakhlak baik kepada seluruh manusia, baik yang mukmin maupun yang kafir, baik yang taat maupun yang maksiat.” Umumnya kekasih adalah mencontoh perilaku sosok yang dikasihi, seperti yang dilakukan kebanyakan orang ketika mengidolakan figur tertentu. Nah, di sini kita diajak untuk memperlakukan makhluk dan jagat raya ini sebagaimana Allah memperlakukan mereka. Takhallaqu bi akhlaqillah berakhlaklah sebagaimana akhlak Allah. Belas kasih Allah meluas kepada seluruh makhluk, menembus sekat-sekat agama, ras, usia, status sosial, dan lainnya. Semoga kita dikaruniai kokoh iman dan Islam, serta kelapangan hati untuk menerima kenyataan akan perbedaan. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ Khutbah II اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَاإِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إلىَ رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ، فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلَآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَآءُ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ Mahbib Khoiron Artikel ini merupakan hasil kerja sama antara NU Online dan UNDP
- As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llāhi wa-barakātuh..Hari ini kita kembali memasuki hari paling utama dibanding hari-hari lainnya menurut Islam, hari Jumat. Bagi kita laki-laki yang sudah balig, sehat dan bermukim, ada kewajiban khusus untuknya, yakni melaksanakan salat Jumat, di mana dalam salat Jumat salah satu syarat sahnya adalah mendengarkan khotbah Khotbah Jumat اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,Setiap dari kita pasti pernah merasakan yang namanya ujian dan cobaan yang semua itu tentunya datang dari Allah dan cobaan hidup dari Allah merupakan sunah. Manusia hidup itu ada masanya akan mengalami berbagai kesusahan dan penderitaan hidup. Manusia akan dihadapkan kepada ujian-ujian hidup yang sulit untuk mengelaknya dan itu adalah satu ketetapan dan hukum Allah yang bersifat pasti dan tetap, berlaku kepada siapa pun, kapan pun dan di mana pun manusia berada. Ujian dan cobaan hidup dari Allah di dunia itu tidak hanya berupa musibah atau kesengsaraan, ada kalanya ia berupa kelapangan dan kenikmatan. Bisa berupa sehat maupun kondisi sakit, bisa berupa kekayaan maupun beberapa surah di Al-Qur'an juga disebutkan tentang ujian yang datangnya dari Allah SWT, baik kondisi senang dan kondisi SWT berfirman اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ يُّتۡرَكُوۡۤا اَنۡ يَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَـنُوۡنَAhasiban naasu anyu yutrakuuu any yaquuluuu aamannaa wa hum la yuftanuunArtinya "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji lagi?" QS. Al-Ankabut 2Dari ayat ini kita bisa mengambil hikmah bahwa Allah akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan tingkat keimanan mereka. Apakah manusia berpikir Allah akan membiarkan mereka saja ketika dikatakan “Kami beriman” tanpa menguji kebenaran perkataan mereka itu dengan ujian melalui harta dan diri mereka? Tentu tidaklah demikian, karena Allah SWT pasti akan menguji manusia agar menjadi jelas tingkat kebenaran dan keteguhannya. Allah SWT juga berfirmanكُلُّ نَفۡسٍ ذَآٮِٕقَةُ الۡمَوۡتِؕ وَنَبۡلُوۡكُمۡ بِالشَّرِّ وَالۡخَيۡرِ فِتۡنَةً ؕ وَاِلَيۡنَا تُرۡجَعُوۡنَKullu nafsin zaaa'iqatul mawt; wa nabluukum bishsharri walkhairi fitnataw wa ilainaa turja'uunArtinya "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami." QS. Al-Anbiya 35Dalam setiap ujian yang menimpa manusia akan selalu ada kebaikan. Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW bersabda “Sungguh menakjubkan seorang mukmin. Tidaklah Allah menetapkan kepadanya sesuatu kecuali itu merupakan kebaikan baginya“ HR. Ahmad.Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,Meski Allah SWT memberi kita ujian dan cobaan, tapi ingatlah bahwa Allah sangat menyayangi hamba-hambanya, karena semua ujian yang didapat itu diberikan sesuai dengan kesanggupan surah Al-Baqarah ayat 286 disebutkan لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَهَا ؕ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا اكۡتَسَبَتۡؕ Laa yukalliful-laahu nafsan illaa wus'ahaa; lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat;Artinya "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya".Baca juga Ayat-Ayat Al-Quran Tentang Musibah dan Bencana, Termasuk Pandemi Doa Ketika Tertimpa Musibah dan Bencana Arab, Latin & Artinya Hikmah di Balik Ujian dan Cobaan Jadi apa hikmah yang bisa kita dapatkan di balik semua ujian dan cobaan yang datangnya dari Allah SWT, setidaknya ada 5 hikmah, yaitu1. Agar Allah semakin mengetahui siapa di antara hamba-hambanya yang benar-benar berada di atas kesabaran dan siapa di antara hamba-hambanya yang berada dalam keputusasaan. Allah berfirman “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. QS. Al-Baqarah 155Ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW, bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara yang berat untuk menunjukkan siapa yang taat dan mana yang ingkar. Imam Al-Munawi dalam Faidh Al-Qadir menjelaskan, bersyukur ketika mendapat kesenangan dan bersabar saat mendapatkan ujian adalah sebenar-benarnya karakter orang yang sikap itu, tulis Al-Munawi, tidak ditemukan dalam diri kalangan kafir dan munafik. Sifat tersebut adalah ketika seseorang diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta, dan kedudukan, ia bersyukur pada Allah Swt atas karunia tersebut, dan Allah akan mencatat mereka ke dalam golongan orang-orang yang halnya ketika ditimpa musibah, ia bersabar, maka seseorang itu pun akan dimasukkan ke dalam orang-orang yang kesabaran dalam menghadapi musibah ialah dengan mengucapkan kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.""Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlif li khairan minha. Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya." HR Muslim2. Allah akan mengangkat derajat dan menghapus dosaAllah berfirman “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu.” QS. Asy-Syura30. Rasulullah bersabda "Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya.” HR. MuslimAda pula riwayat hadis berbunyi, "Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya." HR. Bukhari dan Muslim3. Ujian sebagai tanda cinta dan kebaikan Allah SWTMusibah dan ujian yang diberikan Allah kepada hambanya bisa jadi merupakan tanda cinta dan kebaikan Allah SWT. Sabda baginda Rasulullah SAW"Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barang siapa yang rida maka baginya keridaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." HR. Tirmizi.Dalam riwayat lain juga disebutkan"Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” HR. Ibnu MajahApabila Allah mencintai seseorang, maka bisa saja Allah menujukkan rasa cinta-Nya dengan ujian dan musibah. Allah jadikan musibah sebagai pengganti siksa di akhirat yang kadarnya akan jauh lebih pedih. Rasulullah Saw bersabda;"Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” HR. Tirmidzi4. Ujian bisa disetarakan dengan syahidAnjuran bersabar dalam menghadapi musibah dan ujian, terutama yang berupa wabah ditegaskan Nabi Saw melalui sabdanya "Wabah penyakit adalah sejenis siksa azab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan AhmadDalam kondisi saat ini, seperti yang kita ketahui ada wabah yang disebut dengan virus Corona, Sars-COV-2. Hikmah di Balik musibah seperti Pandemi COVID-19, menurut Syekh Wahbah az-Zuhaili, yang perlu diperhatikan bukan dari sisi sebab musabab lebih penting adalah memahami hikmah di balik rentetan musibah yang datang silih berganti. Manusia adalah hamba, sedangkan Allah adalah Tuhannya yang boleh-boleh saja memberikan musibah, ujian, maupun nikmat Fath Al-Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani menjelaskan, makna gamblang dan akurat manthuq hadis ini adalah orang yang memiliki sifat tersebut berdiam diri di rumah saat terjadi wabah akan mendapatkan pahala syahid walaupun yang bersangkutan tidak sampai meninggal jamaah Jumat rahimakumullah, Wabah bisa menimpa siapa saja, baik mukmin maupun bukan, orang-orang saleh maupun para pendosa. Namun, masing-masing dari mereka bisa berbeda dalam menyikapi wabah dan saat itulah mereka secara tidak langsung sedang ikut menentukan, apakah wabah ini menjadi rahmat kasih sayang atau azab siksa.5. Ujian, cobaan atau musibah bisa mendatangkan pahala tanpa batasAllah Swt berfirman;"... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." QS. Az-Zumar 10Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan mengutip Al-Auza'iy mengatakan, yang dimaksud dengan pahala tanpa batas adalah kebaikan orang-orang yang sabar tidak akan ditakar atau ditimbang. Mereka langsung dimasukkan ke surga tanpa perhitungan. Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Demikian khotbah Jumat pada hari ini. Mudah-mudahan kita semua yang sedang mendapat ujian atau cobaan dari Allah bisa menyikapinya dengan baik, selalu ingat bahwa di balik ujian dan cobaan, ada hikmah yang selalu bisa bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua. Aamiin allahumma اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُBaca juga Kisah Teladan Nabi Ayyub As Sabar Hadapi Cobaan Bertubi-tubi Naskah Khutbah Jumat Meneladani Rasulullah dalam Menyikapi Pandemi - Sosial Budaya Penulis Dhita KoesnoEditor Addi M Idhom